(Yogyakarta : Pertemuan yang tak terduga)
Di sebuah kota besar aku
menginjakan mimpi memulai kehidupan yang baru kota Sleman Yogyakarta kota
seribu candi tempat paling bersejarah yang dinobatkan menjadi kota pelajar,
sudut perkotaan begitu ramai dikunjungi penduduk asli maupun pendatang.
Di sebuah rumah kecil beratap genteng ,
dengan bangunan yang di susun kayu , ditambah
halaman rumah dengan meja dan kursi klasik . aku memulai kehidupanku yang baru di kota ini, alhamdulilah aku mendapat pekerjaan
sebagai staf pengajar dosen termuda di salah satu universitas disana.
Aku
meraih gelar sarjana S2 ku pada usia 24 tahun setahun yang lalu , aku seorang
pendatang dari kota kembang sebelah timur kota jawa.
***
Hari
ini hari pertamaku mengajar , dengan sepedah model lama aku berangkat menyusuri
jalanan yogya .. begitu ramai , namun
tak ada macet padat seperti di jakarta. Dari kejauhan mulai terlihat bangunan
megah tempat para sarjana muda meraih gelar berdiri kokoh di tengah kota . aku
sangat gugup membayangkan dulu seperi
pertama masuk perguruan tinggi ,, dulu aku gugup karena belum tahu banyak hal
dan teman baru ,, sekarang aku lebih gugup memulai sebagai dosen.
Jam
pertama aku mengajar mata kuliah bahasa arab di prdi jurusan bahasa ,,
tak
banyak yang aku bicarakan hanya tentang kontrak belajar dan silabus.
Untuk pengalaman
pertama kurasa tak begitu buruk. Aku menyelesaikan mata kuliah kali ini
dengan
berkenalan dengan mereka. Waktu istirahatku tiba setelah mengisi di tiga
kelas, aku memutuskan untuk pulang dan beristirahat, sambil menyusuri
jalan
kota aku berebelanja beberapa bahan makanan untuk makan malam nanti. Di
sebuah
pertigaan tak sengaja ku temukan jajanan khas kota bandung tempat
kelahiranku,
mie kocok, ah aku seperti menemukan jarum ditumpukan jerami, aku membeli beberapa bungkus. Aku
pulang dengan menenteng makanan yang tadi kubeli.
Tak terasa hari mulai gelap, aku
lekas mengambil air wudlu dan melaksanakan shalat. Waktu isya sudah selesai,
suara ponselku berdering.
“Teh gimana ngajarnya disana lancar ?”
Suara lembut dari ujung telepon
terdengar samar
“Iya mah alhamdulilah lancar,,
bagaimana mamah bapak di rumah sehat?”
“Alhamdulilah ya syukur kalo
lancar, disini mamah bapak sehat, disana jangan lupa makan yang banyak , enggak
boleh telat kamu kan suka sakit kalo telat makan”
“Iya mah tenanga aja nggaka akan
telat makan kok, oh iya mah aku disini nemu mie kocok bandung loh”
“Waaahh disana ada jual?
“Iya mah ajaib kan “
“Heum mungkin yang punya
jongkonya memang rantauan dari bandung “
“Iya juga , mungkin”
“Yaudah ,, udah malem mamah tutup
dulu yah teleponnya ,, cepet tidur jangan begadang!”
“Iya mah siap , assalamualaikum”
***
Di
pagi buta dingin mulai terasa menyeruak, usai sholat shubuh dan membersihkan
rumah aku mengganti pakaian dan lari pagi.
Di sebrang jalan sana, aku
melihat seorang lelaki berperawakan tinggi melambaikan tangannya. Aku tak bisa
melihat wajahnya suasana saat itu terlalu ramai, aku menunggu kerumunan
orang-orang menjauh. Namun saat itu aku tak melihatnya lagi, kupikir dia
mungkin salah orang , aku melanjutkan berjalan.
“Rin ... Airiiiinn !!!!”
Seseorang meneriaki namaku, aku
kembali menoleh ke belakang, dari kejauhan seseorang berlari mengahampiri.
“Hai …”
Dengan bersemangat dan nafas yang
terengah-engah ia menyapaku.
Teman lamaku, aku tak percaya ini.
“Hei , bagaimana kabarmu , ah tidak.
Bagaimana bisa kamu ada disini.”
“Ah lama tidak berjumpa, aku
sedikit kecewa sapaanmu seperti itu
ahaha.”
“Apa yang kau pikirkan?
Pertayaanku serius mengapa kamu bisa ada disini, terakhir kali aku mendengar
kabarmu di Lampung.”
“Ah, ceritanya panjang , apakah
hari ni kau sibuk ?”
“Tidak, kebetulan hari ni aku
libur.”
“Yap, sangat kebetulan, hari ini
ayo kita reuni teman lama, aku tahu cafee yanng enak dekat sini, ayo kita
ngobrol disana.”
“Boleh ayoo.”
Dimas, teman lamaku waktu SMP,
dunia terasa begitu sempit, aku tak menyangka akan bertemu lagi dengannya,
setelah 9 tahun silam kelulusan.
“Bagaimana kabarmu ?”
“Ya alhamdulillah aku baik,
kamu?”
“Ya sama sepertimu. Bagaimana
bisa kamu jauh datang kesini? Ceritaku panjang , jadi kamu yang harus jawab
duluan.”
“Baiklah, aku kesini sebagai
dosen di universitas Erlangga, ya setelah menyelesaikan kuliahku , aku mencoba
mendaftar menjadi pengajar, dan alhamdulialah ternyata aku diteriama disini,”
“Wah ceritamu sungguh luar biasa,
kamu kesini untuk mewujudkan cita-cita,, kisahmu sangat berbeda denganku. Ya
awalnya aku kesini untuk mengadu nasib, setelah aku dikecewakan dua kali oleh
wanita, aku membuang semua keluh kesahku di bandung, dan memulai kembali
disini.”
“Aku tahu itu sangat menyakitkan
untukmu, hingga kau merantau kesini.” Ujarku tersenyum
“Ya inilah hidup. Oh iya di yogya
kamu tinggal dimana ?”
“Em aku tinggak di kos putri
sebrang alun-alun itu”
“Hei sangat kebetulan sekali, aku
juga dekat daerah sana”
Kami berecengkrama, berbecerita
panjang dan tertawa, ya seperti biasa halnya orang-orang yang bertemu kawan
lama.
Setelah itu kami pulang, ia
mengantarku sampai depan kosan.
Kami bertukar no wa dan berbagi
kontak, setelah itu ia pamit dan pulang.
“ah sepertinya dunia sunggh
sempit”
Aku bergegas mandi dan mengganti
pakaian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar