Senin, 14 Oktober 2019

CERPEN ROMANSA (AIRIN DAN DIMAS) Part 1 Yogyakarta : Pertemuan yang tak terduga

Airin dan Dimas 
(Yogyakarta : Pertemuan yang tak terduga)
              Di sebuah kota besar aku menginjakan mimpi memulai kehidupan yang baru kota Sleman Yogyakarta kota seribu candi tempat paling bersejarah yang dinobatkan menjadi kota pelajar, sudut perkotaan begitu ramai dikunjungi penduduk asli maupun pendatang.
                Di sebuah rumah kecil beratap genteng , dengan bangunan yang di susun kayu , ditambah  halaman rumah dengan meja dan kursi klasik . aku memulai kehidupanku yang baru di kota ini, alhamdulilah aku mendapat pekerjaan sebagai staf pengajar dosen termuda di salah satu universitas disana.
                Aku meraih gelar sarjana S2 ku pada usia 24 tahun setahun yang lalu , aku seorang pendatang dari kota kembang sebelah timur kota jawa.
                                ***
                Hari ini hari pertamaku mengajar , dengan sepedah model lama aku berangkat menyusuri jalanan yogya .. begitu ramai , namun tak ada macet padat seperti di jakarta. Dari kejauhan mulai terlihat bangunan megah tempat para sarjana muda meraih gelar berdiri kokoh di tengah kota . aku sangat gugup  membayangkan dulu seperi pertama masuk perguruan tinggi ,, dulu aku gugup karena belum tahu banyak hal dan teman baru ,, sekarang aku lebih gugup memulai sebagai dosen.
                Jam pertama aku mengajar mata kuliah bahasa arab di prdi jurusan bahasa ,, tak banyak yang aku bicarakan hanya tentang kontrak belajar dan silabus. Untuk pengalaman pertama kurasa tak begitu buruk. Aku menyelesaikan mata kuliah kali ini dengan berkenalan dengan mereka. Waktu istirahatku tiba setelah mengisi di tiga kelas, aku memutuskan untuk pulang dan beristirahat, sambil menyusuri jalan kota aku berebelanja beberapa bahan makanan untuk makan malam nanti. Di sebuah pertigaan tak sengaja ku temukan jajanan khas kota bandung tempat kelahiranku, mie kocok, ah aku seperti menemukan jarum ditumpukan  jerami, aku membeli beberapa bungkus. Aku pulang dengan menenteng makanan yang tadi kubeli.
               Tak terasa hari mulai gelap, aku lekas mengambil air wudlu dan melaksanakan shalat. Waktu isya sudah selesai, suara ponselku berdering.
 “Teh gimana ngajarnya disana lancar ?”
Suara lembut dari ujung telepon terdengar samar
“Iya mah alhamdulilah lancar,, bagaimana mamah bapak di rumah sehat?”
“Alhamdulilah ya syukur kalo lancar, disini mamah bapak sehat, disana jangan lupa makan yang banyak , enggak boleh telat kamu kan suka sakit kalo telat makan”
“Iya mah tenanga aja nggaka akan telat makan kok, oh iya mah aku disini nemu mie kocok bandung loh”
“Waaahh disana ada jual?
“Iya mah ajaib kan “
“Heum mungkin yang punya jongkonya memang rantauan dari bandung “
“Iya juga , mungkin”
“Yaudah ,, udah malem mamah tutup dulu yah teleponnya ,, cepet tidur jangan begadang!”
“Iya mah siap , assalamualaikum”
               
                                                                                  ***
                Di pagi buta dingin mulai terasa menyeruak, usai sholat shubuh dan membersihkan rumah aku mengganti pakaian dan lari pagi.
         Di sebrang jalan sana, aku melihat seorang lelaki berperawakan tinggi melambaikan tangannya. Aku tak bisa melihat wajahnya suasana saat itu terlalu ramai, aku menunggu kerumunan orang-orang menjauh. Namun saat itu aku tak melihatnya lagi, kupikir dia mungkin salah orang , aku melanjutkan berjalan.
“Rin ... Airiiiinn !!!!”
           Seseorang meneriaki namaku, aku kembali menoleh ke belakang, dari kejauhan seseorang berlari mengahampiri.
“Hai …”
         Dengan bersemangat dan nafas yang terengah-engah ia menyapaku. 
Teman lamaku, aku tak percaya ini.
“Hei , bagaimana kabarmu , ah tidak. Bagaimana bisa kamu ada disini.”
“Ah lama tidak berjumpa, aku sedikit kecewa sapaanmu seperti itu  ahaha.”
“Apa yang kau pikirkan? Pertayaanku serius mengapa kamu bisa ada disini, terakhir kali aku mendengar kabarmu di Lampung.”
“Ah, ceritanya panjang , apakah hari ni kau sibuk ?”
“Tidak, kebetulan hari ni aku libur.”
“Yap, sangat kebetulan, hari ini ayo kita reuni teman lama, aku tahu cafee yanng enak dekat sini, ayo kita ngobrol disana.”
“Boleh ayoo.”
Dimas, teman lamaku waktu SMP, dunia terasa begitu sempit, aku tak menyangka akan bertemu lagi dengannya, setelah 9 tahun silam kelulusan.
“Bagaimana kabarmu ?”
“Ya alhamdulillah aku baik, kamu?”
“Ya sama sepertimu. Bagaimana bisa kamu jauh datang kesini? Ceritaku panjang , jadi kamu yang harus jawab duluan.”
“Baiklah, aku kesini sebagai dosen di universitas Erlangga, ya setelah menyelesaikan kuliahku , aku mencoba mendaftar menjadi pengajar, dan alhamdulialah ternyata aku diteriama disini,”
“Wah ceritamu sungguh luar biasa, kamu kesini untuk mewujudkan cita-cita,, kisahmu sangat berbeda denganku. Ya awalnya aku kesini untuk mengadu nasib, setelah aku dikecewakan dua kali oleh wanita, aku membuang semua keluh kesahku di bandung, dan memulai kembali disini.”
“Aku tahu itu sangat menyakitkan untukmu, hingga kau merantau kesini.” Ujarku tersenyum
“Ya inilah hidup. Oh iya di yogya kamu tinggal dimana ?”
“Em aku tinggak di kos putri sebrang alun-alun itu”
“Hei sangat kebetulan sekali, aku juga dekat daerah sana”
Kami berecengkrama, berbecerita panjang dan tertawa, ya seperti biasa halnya orang-orang yang bertemu kawan lama.
Setelah itu kami pulang, ia mengantarku sampai depan kosan.
Kami bertukar no wa dan berbagi kontak, setelah itu ia pamit dan pulang.
“ah sepertinya dunia sunggh sempit”
Aku bergegas mandi dan mengganti pakaian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar